Minggu, 10 Juni 2012

Peta dan deskripsi Provinsi Jambi



Nama Resmi: Propinsi Jambi
Ibu kota: Jambi
Luas Wilayah: 53.435,72 km2
Jumlah Penduduk: 2.014.054 jiwa
Suku Bangsa: Melayu, Kubu, Kerinci, dll.
Agama: Islam: 98,4%, Kristen: 1,1%, Budha: 0,36%, Hindu : 0,117%
Wilayah Administrasi: Kabupaten : 9, Kota : 1, Kecamatan : 76, Kelurahan dan Desa: 1.189.
Lagu Daerah: Injit-injit Semut dan Pinang Muda
Website: http://www.pempropjambi.net
SEJARAH
Pada akhir abad ke XIX di daerah Jambi terdapat kerajaan atau Kesultanan Jambi. Pemerintahan kerajaan ini dipimpin oleh seorang Sultan dibantu oleh Pangeran Ratu (Pu­tra Mahkota) yang mengepalai Rapat Dua Belas yang merupakan Badan Pemerintahan Kerajaan.

Wilayah administrasi Kerajaan Jambi meliputi daerah-daerah seba­gaimana tertuang dalam adagium adat “Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam Rajo” yang artinya: Pucuk yaitu ulu dataran tinggi, sem­bilan lurah yaitu sembilan negeri atau wilayah dan batangnya Alam Rajo yai­tu daerah teras kerajaan yang terdiri dari dua belas suku atau daerah.
Secara geografis keseluruhan daerah ­Kerajaan Jambi dapat dibagi atas dua bagian besar yakni :
Daerah Huluan Jambi : meliputi Daerah Aliran Sungai tungkal Ulu, Daerah Aliran Sungai jujuhan, Daerah Aliran Sungai Batang Tebo, Daerah Sungai Aliran Tabir, daerah Aliran Sungai Merangin dan Pangkalan Jambu.
Daerah Hilir Jambi : meliputi wilayah yang dibatasi oleh Tungkal Ilir, sampai Rantau Benar ke Danau Ambat yaitu pertemuan Sungai Batang Hari dengan Batang Tembesi sampai perbatasan dengan daerah Palembang.
Sebelum diberlakukannya IGOB (Inlandsche Gemente Ordonantie Buitengewesten), yaitu peraturan pe­merintahan desa di luar Jawa dan Ma­dura, di Jambi sudah dikenal pemerintahan setingkat desa dengan nama marga atau batin yang diatur menurut Ordonansi Desa 1906. Pada ordonansi itu ditetapkan marga dan batin diberi hak otonomi yang meliputi bidang pe­merintahan umum, pengadilan, kepo­lisian, dan sumber keuangan.
Pemerintahan marga dipimpin oleh Pasirah Kepala Marga yang dibantu oleh dua orang juru tulis dan empat orang kepala pesuruh marga. Kepala Pesuruh Marga juga memimpin peng­adilan marga yang dibantu oleh hakim agama dan sebagai penuntut umum adalah mantri marga. Di bawah peme­rintahan marga terdapat dusun atau kampung yang dikepalai oleh peng­hulu atau kepala dusun atau Kepala Kampung.
Pada masa pemerintahan Belanda tidak terdapat perubahan struktur pemerintahan di daerah Jambi. Daerah ini merupakan salah satu karesidenan dari 10 karesidenan yang dibentuk Belanda di Sumatera yaitu: Karesidenan Aceh, Karesidenan Tapanuli, Karesidenan Sumatera Timur, Karesidenan Riau, Karesidenan Jambi, Karesidenan Sumatera Barat, Karesidenan Palembang, Karesidenan Beng­kulu, Karesidenan Lampung, dan Karesidenan Bangka Belitung.
Khusus Karesidenan Jambi yang beribu kota di Jambi dalam peme­rintahannya dipimpin oleh seorang Residen yang dibantu oleh dua orang asisten residen dengan mengko­ordinasikan beberapa Onderafdeeling. Keadaan ini berlangsung sampai masuknya bala tentera Jepang ke Jambi pada tahun 1942.
ARTI LOGO
Lambang Daerah Tingkat I Provinsi Jambi, berbentuk Bidang Dasar Segi Lima, menggambarkan lambang Jiwa dan semangat Pancasila.
Masjid, melambangkan Ketuhanan dan Keagamaan;
Keris, melambangkan kepahlawanan dan Kejuangan;
Gong, melambangkan jiwa musyawarah dan Demokrasi.

NILAI BUDAYA
Berdasarkan cerita rakyat setempat, nama Jambi berasal dari perkataan “jambe” yang berarti “pinang”. Nama ini ada hubungannya dengan sebuah legenda yang hidup dalam masyarakat, yaitu legenda mengenai Raja Putri Selaras Pinang Masak, yang ada kaitannya dengan asal-usul provinsi Jambi.
Penduduk asli Propinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain Melayu Jambi, Batin, Kerin­ci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu), dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan pen­duduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai Batanghari.
Suku Kubu atau Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku-suku yang lain. Mereka diperkirakan meru­pakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau yang bermaksud mem­perluas daerah ke Jambi. Ada sementara informasi yang menyatakan bahwa su­ku ini merupakan keturunan dari per­campuran suku Wedda dengan suku Negrito, yang kemudian disebut seba­gai suku Weddoid.
Orang Anak Dalam dibedakan atas suku yang jinak dan liar. Sebutan “ji­nak” diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tem­pat tinggal yang tetap, dan telah mengenal tata cara pertanian. Se­dangkan yang disebut “liar” adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan-hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.
Suku-suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pede­saan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa larik (kumpulan rumah panjang beserta pekarang­annya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (Rio), dibantu oleh mangku, canang, dan tua-tua tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup ma­syarakat desa.
Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah-­istilah atau gelar-gelar tertentu untuk menyebut lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka hanya mengenal sebutan-sebutan yang “kabur” untuk menunjukkan status seseorang, seperti orang pintar, orang kaya, orang kam­pung dsb.
Pakaian Pada awalnya masyarakat pede­saan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebu­dayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah ruas yang mengge­lembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam mela­kukan pekerjaan sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi deng­an kopiah.
Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas perentak, Rangguk, Sekapur sirih, Selampit delapan, Serentak Satang.
Upacara adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik sirih bergurau pinang, Duduk bertuik, tegak betanyo, ikat buatan janji semayo, Ulur antar serah terimo pusako dan Kematian.
Filsafat Hidup Masyarakat Setempat: Sepucuk jambi sembilan lurah, batangnyo alam rajo.

LETAK GEOGRAFIS PROPINSI JAMBI
Propinsi Jambi terletak di daerah khatulistiwa antara 0.45° garis Lintang Utara 2.45° garis Lintang Selatan dan 101.10° sampai 104.55° Bujur Timur. Provinsi Jambi yang terletak di wilayah Timur Sumatera bersempadan di sebelah Utara dengan Provinsi Riau, di sebelah Selatan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu, di sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat, di sebelah Timur dengan Provinsi Selat Berhala.
Provinsi Jambi berdasarkan Undang Undang Nomor 54 Tahun 1999 terdiri dari sembilan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Kerinci, Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Batang Hari, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tebo, Kabupaten Bungo, dan Kota Jambi.
Sumber:
http://milimeterindonesia.com/news/jambi/
http://jambicrew.blogspot.com/2007/09/letak-geografis-provinsi-jambi_29.html

Laporan Praktikum HPT ( Hama Tanaman Kacang Panjang)


·        PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG.
Kacang panjang (Vigna unguiculata sesquipedalis L) merupakan tumbuhan yang dijadikan sayur atau lalapan. Kacang panjang ini tumbuh dengan cara memanjat atau melilit. Bagian yang dijadikan sayur atau lalapan adalah buah pokok tersebut
Faktor biotis merupakan salah satu penyebab penurunan produksi kacang panjang. Faktor biotis adalah makhluk hidup yang menimbulkan kerusakan pada tanaman, seperti manusia, hewan/binatang, serangga, jasad mikro ataupun submikro dan lain sebagainya.
Hama adalah binatang yang selalu menyebabkan kerugian bagi seorang petani.Penyakit tanaman adalah semua penyebab tanaman sakit dan akan merugikan jika tudak dikendalikan. Sedangkan nematode adalah organism kecil yang hidup di sekitar perakaran tanaman.Semua gangguan ini harus selalu di kendalikan secara tepat dan efektif. Cara pengendalian yang dilakukan yaitu dengan cara memberantas secara biologis,kimia, dan manual. Pemberantasan ini sangat perlu sekali karena gulma, hama,penyakit, dan nematoda akan menyebabkan kerugian yang sangat besar. Hama yang menyerang tanaman kacang panjang adalah tungau, ulat grayak, belalang, capung, kepik, dan walang sangit.

·         TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian hama adalah hewan yang merupakan merugikan kepentingan manusia. Rumput yang sengaja ditanam dirusak belalang, belalang disehut hama. Padi ditanam dan diserang penggerek batang, penggerek batang disebut hama. Bunga warna putih yang indah, dikotori feces kumbang, kumbang disebut hama dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Kiranya persaingan manusia dengan serangga yang disebut hama dimulai jauh sebelum adanya peradaban manusia, yang terus berlangsung tanpa ada waktu istirahat sampai sekarang dan akan berlanjut selama manusia itu ada. Suatu kenyataan bahwa manusia dan serangga secara tetap menginginkan hal yang serupa dalam waktu yang sama. Perang terjadi, akan tetapi tidak satupun dari keduanya ada yang menang.
Apabila pengertian hama itu hewan yang merugikan, maka serangga hama didefinisikan sebagai serangga yang mengganggu dan atau merusak tanaman haik secara ekonomis atau estetis.  Definisi hama itu tidak harus dihubungkan dengan pengendaliannya. Pada populasi serangga yang rendah sehingga kerugian yang diderita tanaman kecil, tetap serangga itu dikatakan serangga hama tetapi bukan memerlukan strategi pengendalian.
Umumnya kelompok serangga terdiri dari serangga berguna (Helful or beneficial insect) dan serangga merugikan (Harmful or injerious insect) Serangga merugikan terdiri dari :
- Poisonous insect seperti ulat bajra/ulat api, lebah
- Pest yaitu crop pest seperti serangga hama pada tanaman yang dibudidayakan, Plnat pest seperti serangga hama pada tanaman hutan atau tanaman sayura lainnya.
- Stored groin pest seperti serangga hama gudang
- House hold pest seperti serangga hama pada rumah tangga, contohnya serangga kecoa
- Dometic animal pest seperti serangga hama pada luka yang diderita hewan ternak.
- Disease pests seperti serangga yang menyebabkan berbagai penyakit ataupun vektor penyakit.
Organisme yang berpotensi sebagai pengganggu tanaman Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang terdiri dari hama, penyakit dangulma, merupakan kendala utama dalam budidaya tanaman. Oleh karena itu pencarian teknologi pengendalian OPT terus berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan sosial, ekonomi dan ekologi. Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalamkegiatan sehari-hari manusia.
Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktek istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan.Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian.
Penyakit pada tumbuhan sering juga diakibatkan oleh datangnya hewan pengganggu seperti wereng, belalang, dan berbagai jenis serangga lainnya. Gangguan ini dapat dihilangkan dengan penggunaan insektisida.
Kehilangan hasil pertanian akibat adanya organisme pengganggu tanamanOrganisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksitanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan.Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaituhama, penyakit dan gulma. Organisme pengganggu tanaman merupakan salah satu penghambat produksi dan penyebab ditolaknya produk tersebut masuk kesuat negara, karena dikawatirkan akan menjadi hama baru di negara yangditujunya. Berdasarkan pengalaman, masih adanya permasalahan.
OPT yang belum tuntas penanganannya dan perlu kerja keras untuk mengatasinya dengan berbagai upaya dilakukan, seperti lalat buah pada berbagai produk buah dan sayuran buah dan virus gemini pada cabai. Selain itu, dalam kaitannya denganterbawanya OPT pada produk yang akan diekspor dan dianalis potensial masuk,menyebar dan menetap di suatu wilayah negara, akan menjadi hambatan yang berarti dalam perdagangan internasional. Dilema yang dihadapi para petani saat ini adalah disatu sisi cara mengatasi masalah OPT dengan pestisida sintetis dapat menekan kehilangan hasil akibat OPT, tetapi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Di sisi lain, tanpa pestisida kimia sintetis akan sulit menekan kehilangan hasil akibat OPT.
Padahal tuntutan masyarakat dunia terhadap produk pertanian menjadi bertambah tinggi terutama masyarakat negara maju, tidak jarang hasil produk pertanian kita yangsiap ekspor ditolak hanya karena tidak memenuhi syarat mutu maupun kandungan residu pestisida yang melebihi ambang toleransi. Hama serangga Diantara binatang yang banyak merusak tanaman adalah dari golongan serangga (insekta). Salah satu alasannya adalah bahwa spesies golongan serangga paling banyak diantara kingdom makhluk hidup binatang (animalia).Serangga termasuk golongan binatang bersegmen (antropoda) yang mempunyai tiga bagian pokok tubuh yaitu kepala (caput), dada (thorax) dan perut(abdomen), berkaki enam (disebut juga heksapoda) dan sebagaian besar bersayap. Posisi kaki dan sayap (bila ada) berada di segmen dada.Dalam siklus hidupnya, beberapa jenis serangga mengalami metamorfosis yang secara anatomis, morfologis maupun fisiologis sangat berbeda antara insektayang baru menetas (larva, nimfa) dengan dewasanya (imago).
Beberapa penggolongan hama yaitu:

1. Ortoptera (belalang, jangkrik, orong-orong)
2. Homoptera (Wereng, apis, kutu)
3. Heteroptera (Kepik)
4. Lepidoptera (ngengat, kupu)
5. Diptera (sayap satu pasang -lalat)
6. Koleoptera (sayap keras - kumbang)
7. Tisanoptera (trips)
8. Isoptera (rayap)
9. Himenoptera (tawon, semut)
10.Satu golongan lagi dari artropoda bukan insekta namun merupakan hama yang penting yaitu akarina, ada dalam daftar setelah insekta

·         TUJUAN PRAKTIKUM
Praktikum ini bertujuan melihat dan mengetahui jenis hama di ekosistem pertanaman, mengetahui kelimpahan antropoda yang menghuni pertanaman. dan untuk mengetahui tingkat kejadian dan keparahan yang mengakibatkan kerugian yang disebabkan oloh beberapa hama yang menyerang tanaman kacang panjang(Vigna unguiculata sesquipedalis L)
·         METODOLOGI PRAKTIKUM
*      Waktu dan Tempat praktikum :
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 2 Januari 2012 di Kelompok Tani Mendalo Mas pada varietas Kacang Panjang.
*      Alat dan Bahan:
v  Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
·               Camera
·               Pulpen
·               Buku
v  Cara Kerja
1.      Amati gejala dan penyebab dari tanaman tersebut, kemudian tentukan apakah dia terserang hama tanaman kacang panjang.
2.      Catat di dalam buku.
3.      Sebagai bukti konkrit ambil foto dari sampel tanaman kacang panjang yang kita amati.
·         HASIL DAN PEMBAHASAN
v  Hasil    :
Dari pengamatan didapat ada 6 jenis hama yang menyerang tanaman Kacang panjang yaitu:
1.      Lalat kacang (Ophiomyaphaseoli Tryon)
2.      Kutu Daun (Aphis cracivora Koch)
3.      Ulat Grayak (Spodopteralitura F.)
4.      Penggerek Biji Callosobruchusmaculatus L)
5.      Ulat Bunga ( Marucatestualis)
6.      Kumbang daun

v  Pembahasan:
Pada pengamatan terdapat 6 jenis hama tetapi hama tidak berakibat buruk pada tanaman yang diserang karena hama berjumlah relative sedikit sehingga tidak ada kerugian yang berarti bagi petani di kelompok tani ini. Sedikitnya jumlah hama diakibatkan karena petani kerap melakukan penyemprotan dengan insektisida.







·         KESIMPULAN
1.      Hama yang menyerang tanaman kacang panjang di kelompok tani mendalo mas ada terdapat 6 jenis hama yaitu:
Lalat kacang (Ophiomyaphaseoli Tryon); Kutu Daun (Aphis cracivora Koch); Ulat Grayak (Spodopteralitura F.);Penggerek Biji Callosobruchusmaculatus L); UlatBunga ( Marucatestualis); Kumbang daun.
2.      Kelompok tani ini kerap menggunakan insektisida untuk membasmi hama.